RSS

Terima kasih ya Pak

Jadi, hari ini mudik. As usual, pakai kereta. Setelah beli roti O untuk bekal, aku duduk di kursi tunggu. Jam di tanganku masih menunjukkan pukul 18.05, keretaku pukul 18.22.Di hadapanku, kereta Argo ke Jakarta menunggu untuk berangkat. Ada bapak-bapak, berusia sekitar 60tahun memakai kaos ungu. Oh, porter. Dia tersenyum kepadaku, sambil bertanya: ‘naik kereta apa mbak?’

‘Kertajaya’, jawabku sambil mengambil botol air minumku.

‘Oh, bentar lagi keretanya datang, mbak. Tadi sih lancar, gak ada pemberitahuan telat’, ucap bapak itu, masih dengan senyumnya.

‘Iya, Pak. Semoga gak telat’, ucapku lagi.
Bapak itu mengangguk sambil membuka topi yang dipakainya, mengusap peluhnya.
Hari ini, aku hanya membawa 1 ransel. Aku mampu membawanya sendiri. Namun, aku merasa, bapak itu berhak mendapat beberapa rupiah rejekinya yang dititipkan Tuhan melalui aku.
Jam tanganku menunjukkan pukul 18.25. Keretaku hampir tiba. Kupanggil bapak itu sambil menunjuk ransel bututku. Dengan semangat 45, beliau menghampiriku dan tersenyum sambil mengangkat ranselku di pundaknya. Aku mengikuti langkahnya, kudengarlah ceritanya tentang anak-anaknya sampai kami tiba di gerbong 11. Dia naik dan membantuku memasuki kereta, menunjukkan kursiku dan senyum tulusnya kembali muncul di wajahnya yang sudah penuh keriput.

Aku membalas senyumnya, kuselipkan uang di jemarinya sambil berterima kasih. Dia membalas ucapanku masih dengan senyumnya, dan sederet doa baik untukku.

Aku belajar bahwa kita tak perlu iri dengan hidup orang lain. Iri boleh, dengki jangan, agar menjadi cambuk bagi kita untuk lebih baik lagi. Harus bersyukur atas apapun yang kita punyai. Pernah dengar ‘jika kita tak bisa mendapatkan apa yang kita cintai, maka cintailah apa yang kita punya’?

Terima kasih ya Pak ๐Ÿ™‚

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2016 in Uncategorized

 

Mengenang HMD

  
Lagi-lagi aku harus menulis tentang kepergian. 
‘Mas Kum’, itulah panggilanmu untukku, mas. Tapi kamu selalu mengucapkannya sambil tertawa khas, sehingga aku gak bisa marah karenanya.

Belum lama kita berkenalan. Baru setahun. Awal perkenalan kita, via twitter dan berlanjut dengan pertemuan kita di dunkin amplaz. Masih ingat kan mas? Kamu meluangkan waktumu untuk menemaniku yang harus menunggu hingga dijemput travel.

Lalu, pertemuan kita semakin sering. Dan kamu tetap memanggilku ‘mas kum’. Atau ‘mbak kum’, kadang-kadang. Kita jarang berinteraksi via pesan pribadi, lebih sering lewat mention di twitter.

Dua minggu terakhir, dalam perjalananku di Jogja, dua kali itu kita berjumpa. Dan kamu masih tetap dengan kesederhanaan & tawamu yang khas.

Aku sempat heran saat melihatmu ada di FJB. Karena setauku, kamu tak terlalu suka dengan keramaian manusia dan ubyang ubyung gak jelas. Tapi hari itu, seharian kamu bersama kami, teman-temanmu. Bahkan kita merencanakan piknik bareng, mas. Piknik yang gak akan terjadi. Seolah kamu ingin menghabiskan lebih banyak waktumu bersama kami.

Hari itu, aku sempat cemas membaca pesan di whatsapp, bahwa kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Menurut up-dateanmu, kamu beberapa kali harus rawat inap di rumah sakit. Lalu, karena kerjaan, aku gak sempat melihat hape. Sampai, aku membaca di path, bahwa kamu telah pergi meninggalkan kami selamanya, untuk bertemu dengan Tuhanmu yang Maha Asyik itu.

Setengah tergesa aku membaca whatsapp. Memastikan semuanya benar, bukan hanya guyonan dari kawan-kawan. Tapi, aku yakin, kematian bukanlah hal yang patut dibikin guyonan.

Aku nangis mas. Gak sempat ke kamar mandi, aku nangis di mejaku. Kubiarkan air mata merusak dandananku. Kubiarkan tangisanku menggantikan senyumku. Kubiarkan isakanku lirih mengucap Al-Fatihah. Terlalu cepat kamu meninggalkan kami. Dan tangisan itu masih berlanjut, bahkan ketika aku pulang dan beranjak tidur.

Ah, lagi-lagi kepergian seseorang membuatku menangis saat mengenangnya. Kita memang tak mempunyai banyak kenangan bersama, waktu kita terlalu singkat. Namun, kamu adalah salah satu teman terhebat yang pernah aku temui.

Damailah bersama Tuhanmu Yang Maha Asyik. Di sana, kamu bisa renang di lautan es teh, mas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2015 in Uncategorized

 

Filosofi Kopi

 

 Filosofi Kopi merupakan film adaptasi dari buku Dewi Lestari yang berjudul sama. Saya sendiri belum membaca bukunya.

Acting para cast, gak perlu diragukanlah ya. Chemistry antara Chicco sebagai Ben & Rio Dewanto sebagai Jody sangat kuat. Pendalaman peran mereka pun sangat total. Bukan hanya cast yang total, pembuatan film ini juga pakai niat & hati, hingga semua terasa nyata. 

Hutang 800 juta yang diwariskan oleh ayah Jody memaksa Ben untuk membuat secangkir kopi istimewa, agar kedai Filosofi Kopi mereka tetap berjalan. Perbedaan karakter antara Ben & Jody membuat mereka berantem setiap harinya, karena Jody selalu melihat kedai kopi mereka dari sisi bisnis, sedangkan Ben beranggapan, jika kopi yang enak akan mendatangkan penikmatnya sendiri. Di sinilah mereka berkonflik.

Ben akhirnya menciptakan kopi Benโ€™s perfecto, yang dia anggap sebagai kopi terbaik di Jakarta, bahkan Indonesia. Sampai hal itu dipatahkan oleh kedatangan El, wanita penikmat kopi yang sedang menyusun ulang buku mengenai kopi. El beranggapan bahwa kopi tiwus yang dia cicipi di daerah Ijen, milik Pak Seno, adalah kopi terbaik saat ini.

Ego Ben seakan terluka dan mereka โ€“Jody, Ben dan El- melakukan perjalan untuk merasakan kopi terbaik versi El. Konflik tetap terjadi dan apa yang membentuk Ben hingga menjadi sekarang muncul dalam flash back. Bagaimana masa kecil ben, keluarga Ben & kecintaan Ben sedari kecil terhadap kopi.

Filosofi kopi bukan hanya bercerita mengenai kopi dan bisnis kopi, namun juga mengenai persahabatan & bagaimana kita berdamai dengan masa lalu. Juga bagaimana kita memaafkan diri kita sendiri.

Scoring film ini bagus banget. Penempatan lagu yang sangat apik oleh Glenn Fredly, yang didukung oleh nama besar seperti Maliq & Dโ€™essentials & Dewi Lestari. Suara sruputan kopi masih terngiang sampai sekarang J

Setiap kopi mempunyai maknanya sendiri. Dan saya percaya, kopi yang enak akan menemukan penikmatnya.

Promosi film ini kenceng banget. Selain melalui social media, combi Filkop beredar di beberapa daerah di Jakarta. Bahkan sebelumnya ada Filosofi Kopi Tour.

Kekurangan dari film ini, iklannya banyak banget!! Tapi nyelipnya gak mencolok banget, jadi gak terlalu ganggu. Beberapa kali adegan ada yang rada goyang (atau mungkin menurut saya karena Filkop film ketiga yang saya tonton hari itu, sehingga saya agak lelah) namu  tidak mengurangi keseluruhan keindahan film ini.

Applause untuk Dewi Lestari, Angga Sasongko sebagai sutradara, Jenny Jusuf sebagai penulis skenario dan seluruh kru film ๐Ÿ™‚

Oh ya, jangan keluar dulu, karena setelah credit tittle ada scene tambahan. Selamat menonton. 

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada April 13, 2015 in Film, Review

 

Tag: , , ,

Menjadi istri

Menjadi seorang istri, bukankah impian hampir semua wanita? Aku, kamu, mereka. Dan hari ini, impian itu terwujud dengan pernikahanmu dengannya, Mbak.

1,5 tahun aku mengenalmu sebagai sosok yang kuat dan tangguh. Jiwa rockermu terlihat, terutama saat kita berada di tuang karaoke. Aku, kamu, Ferry dan Dea. Ya, karaokean yang berujung curhat. Lalu ditutup dengan jogetan kita dari lagu ngebeat entah dari siapa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ah, membuatku rindu masa itu.

Mbak Fay,
Aku tahu kamu pernah jatuh. Aku tahu kamu menyimpan luka itu sendirian. Sekarang, kamu sudah punya Masnya untuk berbagi. Sekarang, sudah ada Masnya yang akan menyembuhkan lukamu.

Mbak Fay,
Tugasmu menjadi istri tidaklah mudah. Jaga pernikahanmu dengan Masnya. Ingat janji pernikahanmu yang kalian ucapkan di depan penghulu, saat badai menerpa. Jadilah keluarga yang bahagia. Dan doamudi pelaminan tadi, aku aamiinkan dengan sepenuh hati ๐Ÿ™‚

Sekali lagi, selamat menjadi seorang istri, Mbak Fay.

Xoxo

-dudut-

IMG_8947

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Tag: ,

Bride-to-be

Roda kehidupan selalu berputar dan kita tak pernah tahu akan berada di mana. Bisa saja saat ini kita berada di atas, dalam waktu 5 detik kita akan terpuruk. Begitupun untuk rejeki, umur & jodoh. Semua adalah misteri Ilahi. Yang mampu kita lakukan adalah berdoa dan berusaha.

Tak menyangka, kamulah yang pertama menuju pelaminan, di antara kita berempat. Kamu, yang dulunya menyandang status ‘nita celalu cendili’ dikarenakan kejomloanmu *digetok*. Kamu, si tante rambut palsu, pasar malamnya kami, saat ini pasti sedang sibuk menyiapkan acara yang paling kamu tunggu. Acara sakral yang akan menjadikanmu seorang istri. Acara sakral yang menentukan awal dari kehidupanmu.

Kamu telah memilih seorang pria untuk mendampingimu seumur hidupmu. Setelah sebelumnya, kamu harus terluka dan patah hati berkali-kali. Tetapi, hey, bukankah hati kita akan bertambah kuat setiap kali patah?

Jadilah wanita yang kuat untuk suamimu. Jadilah wanita yang menyenangkan untuk teman dan sahabatmu. Jadilah anak yang taat dan patuh untuk orang tuamu. Dan, jadilah manusia seutuhnya, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.

Selamat menempuh hidup baru nantinya, Nita. Semua doa baik untukmu dan pasangan akan aku panjatkan lagi saat kamu dan Nanda duduk di hadapan penghulu di bulan Mei, dan kata โ€œSAHโ€ terucap dari wali dan saksi nikahmu.

Menikah bukan perkara siapa yang tercepat, namun dengan orang yang tepat. Semoga kamu dan Nanda adalah pasangan yang tepat ๐Ÿ™‚

IMG_8794

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Usah Kau Lara Sendiri

Halo Zee,
Mencoba mengulik sudut otakku untuk mengingat awal persahabatan kita. Perkenalan kita dari facebook, setelah sebelumnya aku mendengar tentangmu dari teman-teman dansa. Mereka seolah ingin membuatku cemburu, dengan menceritakan kedekatanmu dengan mantan kekasihku. Padahal aku tahu, kalian hanyalah sebatas guru dan murid.

Episode kedua, awal pertemuan kita. Ya, di salah satu gedung di kampus, saat itu kita saling menyapa, berjabat tangan. Kau perlihatkan lesung pipimu dan kau kibaskan rambut panjang lurusmu. Manis, ucapku dalam hati.

Selanjutnya, pertemuan kita semakin sering. Entah itu dalam latihan dansa, show atau sekadar bercengkerama menghabiskan waktu.

Kamu semakin terbuka kepadaku, menceritakan berbagai persoalan dan masalah hidupmu. Entah itu soal keluarga, perkuliahanmu, ataupun mengenai kekasihmu. Meski sebelumnya kamu bertutur, kalau kamu bukan tipe pencerita.

Ya, Zee. Aku dapat melihatnya. Bagaimana matamu yang jernih, menyiratkan luka. Atau senyummu yang renyah, namun terkesan patah. Dan kata-kata optimismu untukku, seolah menasehati diri sendiri.

Zee,
Kau sering berpikir terlalu jauh. Cemas untuk sesuatu yang belum pasti terjadi. Lalu, kamu mengutuk dirimu sendiri. Kurangilah. Tak ada gunanya, selalu itu yang kuucapkan.

Zee,
Percayalah bahwa kamu berarti.
Percayalah bahwa banyak yang sayang padamu.
Percayalah, bahwa kamu tak harus menanggung lukamu sendiri.
Ada aku di sini, yang siap mendengar segala keluh kesahmu.

Zee,
Usahlah kau lara sendiri.

IMG_6913

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 10, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Ibu

Ibuku hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa. Senang memakai daster, tertidur di pukul enam sore dengan televisi yang masih menyala, mengomel tiada henti saat aku malas mandi, selalu mengajarkan kami dengan penuh kasih.

Ibu, buatku adalah seorang pejuang. Pantang menyerah agar anaknya hidup layak. Membesarkan kami sendirian sejak kepergian Ayah, tentu tak mudah. Namun dia mampu. Dia kuat. Padahal, anak-anaknya bandel. Suka membantah apa kata Ibunya. Terutama aku.

Tak terhingga berapa banyak air mata yang jatuh. Berapa peluh yang bercucuran agar kami, anakmu, mampu hidup berkecukupan. Dan bagaimana kakimu melepuh saat membantu kami meniti cita-cita kami.

Dalam sujud syukurmu, terapal doa tanpa jeda untuk kami. Dalam senyummu, tersimpan kekuatan yang tak terhingga. Dalam pancaran matamu, kasih tampak secara nyata.

Ibu, aku tahu perjuanganmu. Saat aku belum memejamkan mata, bahkan kamu bersiap mengumpulkan rupiah. Kamu rela menungguku pulang, agar kita bisa berbincang tentang apapun. Kamu rela menyimpan pedih dan sakitmu sendiri agar kami tak khawatir.

Ibu, aku pernah meninggalkanmu untuk meraih impianku. Sampai aku sadar bahwa tempat terindah adalah rumah kita denganmu menunggu kepulanganku. Iya, itulah arti rumah yang sebenarnya.

Maafkan aku yang belum mampu membuatmu bahagia sepenuhnya. Percayalah, aku dalam perjalanan menuju ke sana, denganmu sebagai dorongannya.

IMG_2764

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 10, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 
 
%d blogger menyukai ini: