RSS

Arsip Kategori: #30harimenulissuratcinta

Menjadi istri

Menjadi seorang istri, bukankah impian hampir semua wanita? Aku, kamu, mereka. Dan hari ini, impian itu terwujud dengan pernikahanmu dengannya, Mbak.

1,5 tahun aku mengenalmu sebagai sosok yang kuat dan tangguh. Jiwa rockermu terlihat, terutama saat kita berada di tuang karaoke. Aku, kamu, Ferry dan Dea. Ya, karaokean yang berujung curhat. Lalu ditutup dengan jogetan kita dari lagu ngebeat entah dari siapa 😂😂😂 ah, membuatku rindu masa itu.

Mbak Fay,
Aku tahu kamu pernah jatuh. Aku tahu kamu menyimpan luka itu sendirian. Sekarang, kamu sudah punya Masnya untuk berbagi. Sekarang, sudah ada Masnya yang akan menyembuhkan lukamu.

Mbak Fay,
Tugasmu menjadi istri tidaklah mudah. Jaga pernikahanmu dengan Masnya. Ingat janji pernikahanmu yang kalian ucapkan di depan penghulu, saat badai menerpa. Jadilah keluarga yang bahagia. Dan doamudi pelaminan tadi, aku aamiinkan dengan sepenuh hati 🙂

Sekali lagi, selamat menjadi seorang istri, Mbak Fay.

Xoxo

-dudut-

IMG_8947

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Tag: ,

Bride-to-be

Roda kehidupan selalu berputar dan kita tak pernah tahu akan berada di mana. Bisa saja saat ini kita berada di atas, dalam waktu 5 detik kita akan terpuruk. Begitupun untuk rejeki, umur & jodoh. Semua adalah misteri Ilahi. Yang mampu kita lakukan adalah berdoa dan berusaha.

Tak menyangka, kamulah yang pertama menuju pelaminan, di antara kita berempat. Kamu, yang dulunya menyandang status ‘nita celalu cendili’ dikarenakan kejomloanmu *digetok*. Kamu, si tante rambut palsu, pasar malamnya kami, saat ini pasti sedang sibuk menyiapkan acara yang paling kamu tunggu. Acara sakral yang akan menjadikanmu seorang istri. Acara sakral yang menentukan awal dari kehidupanmu.

Kamu telah memilih seorang pria untuk mendampingimu seumur hidupmu. Setelah sebelumnya, kamu harus terluka dan patah hati berkali-kali. Tetapi, hey, bukankah hati kita akan bertambah kuat setiap kali patah?

Jadilah wanita yang kuat untuk suamimu. Jadilah wanita yang menyenangkan untuk teman dan sahabatmu. Jadilah anak yang taat dan patuh untuk orang tuamu. Dan, jadilah manusia seutuhnya, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu.

Selamat menempuh hidup baru nantinya, Nita. Semua doa baik untukmu dan pasangan akan aku panjatkan lagi saat kamu dan Nanda duduk di hadapan penghulu di bulan Mei, dan kata “SAH” terucap dari wali dan saksi nikahmu.

Menikah bukan perkara siapa yang tercepat, namun dengan orang yang tepat. Semoga kamu dan Nanda adalah pasangan yang tepat 🙂

IMG_8794

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Usah Kau Lara Sendiri

Halo Zee,
Mencoba mengulik sudut otakku untuk mengingat awal persahabatan kita. Perkenalan kita dari facebook, setelah sebelumnya aku mendengar tentangmu dari teman-teman dansa. Mereka seolah ingin membuatku cemburu, dengan menceritakan kedekatanmu dengan mantan kekasihku. Padahal aku tahu, kalian hanyalah sebatas guru dan murid.

Episode kedua, awal pertemuan kita. Ya, di salah satu gedung di kampus, saat itu kita saling menyapa, berjabat tangan. Kau perlihatkan lesung pipimu dan kau kibaskan rambut panjang lurusmu. Manis, ucapku dalam hati.

Selanjutnya, pertemuan kita semakin sering. Entah itu dalam latihan dansa, show atau sekadar bercengkerama menghabiskan waktu.

Kamu semakin terbuka kepadaku, menceritakan berbagai persoalan dan masalah hidupmu. Entah itu soal keluarga, perkuliahanmu, ataupun mengenai kekasihmu. Meski sebelumnya kamu bertutur, kalau kamu bukan tipe pencerita.

Ya, Zee. Aku dapat melihatnya. Bagaimana matamu yang jernih, menyiratkan luka. Atau senyummu yang renyah, namun terkesan patah. Dan kata-kata optimismu untukku, seolah menasehati diri sendiri.

Zee,
Kau sering berpikir terlalu jauh. Cemas untuk sesuatu yang belum pasti terjadi. Lalu, kamu mengutuk dirimu sendiri. Kurangilah. Tak ada gunanya, selalu itu yang kuucapkan.

Zee,
Percayalah bahwa kamu berarti.
Percayalah bahwa banyak yang sayang padamu.
Percayalah, bahwa kamu tak harus menanggung lukamu sendiri.
Ada aku di sini, yang siap mendengar segala keluh kesahmu.

Zee,
Usahlah kau lara sendiri.

IMG_6913

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 10, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Ibu

Ibuku hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa. Senang memakai daster, tertidur di pukul enam sore dengan televisi yang masih menyala, mengomel tiada henti saat aku malas mandi, selalu mengajarkan kami dengan penuh kasih.

Ibu, buatku adalah seorang pejuang. Pantang menyerah agar anaknya hidup layak. Membesarkan kami sendirian sejak kepergian Ayah, tentu tak mudah. Namun dia mampu. Dia kuat. Padahal, anak-anaknya bandel. Suka membantah apa kata Ibunya. Terutama aku.

Tak terhingga berapa banyak air mata yang jatuh. Berapa peluh yang bercucuran agar kami, anakmu, mampu hidup berkecukupan. Dan bagaimana kakimu melepuh saat membantu kami meniti cita-cita kami.

Dalam sujud syukurmu, terapal doa tanpa jeda untuk kami. Dalam senyummu, tersimpan kekuatan yang tak terhingga. Dalam pancaran matamu, kasih tampak secara nyata.

Ibu, aku tahu perjuanganmu. Saat aku belum memejamkan mata, bahkan kamu bersiap mengumpulkan rupiah. Kamu rela menungguku pulang, agar kita bisa berbincang tentang apapun. Kamu rela menyimpan pedih dan sakitmu sendiri agar kami tak khawatir.

Ibu, aku pernah meninggalkanmu untuk meraih impianku. Sampai aku sadar bahwa tempat terindah adalah rumah kita denganmu menunggu kepulanganku. Iya, itulah arti rumah yang sebenarnya.

Maafkan aku yang belum mampu membuatmu bahagia sepenuhnya. Percayalah, aku dalam perjalanan menuju ke sana, denganmu sebagai dorongannya.

IMG_2764

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 10, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Kring Kring

KRIIING!! KRIIING!!

Halo, tukang posku
Salam kenal ya. Sebelumnya aku bahkan tak pernah tahu akunmu. Padahal kamu sekarang masih berada di kota kelahiranku. Eh, apa kabar Salatigaku? Masih sejukkah? 😬😬😬

Tombol follow akhirnya aku klik. Dan aku membaca linimasamu. Aku suka dengan rangkaian aksara yang kamu utarakan.

Kak Mike,
Tetaplah menulis. Tetaplah bermain dalam imajinasimu yang aku sukai.

Tukang Posku,
Terima kasih sudah bersusah payah mengantarkan surat-suratku. Terima kasih telah membaca beberapa keping kehidupanku.

Tukang Posku,
Tetaplah sehat, agar kamu bisa menunaikan tugas. Tugas dari kami, akun D-G.

KRIIINGG KRIIINGG

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 9, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Mari berdansa

Tak mudah meninggalkanmu, setelah sekian lama aku mengenalmu. Enam tahun, bukan waktu yang singkat. Begitu banyak yang kita lewati bersama, namun sampai saat ini aku belum sepenuhnya mengerti tentangmu.

Banyak halangan dalam cerita kita. Ya, tentu saja. Mana ada kisah yang mulus tanpa ada batu sandungan. Mana ada kisah sempurna, seperti yang kita baca sebagai dongeng sebelum tidur. Hidup tak seindah itu, sayang.

Perlu kau tau, aku terus memperjuangkanmu. Agar kisah kita tak hanya sekadar kenangan. Agar kita, tetap menjadi kita. Agar saat ini, tetap ada kita. Namun apa daya, keadaan sudah berubah. Pun aku dan kamu. Aku sudah sibuk mengejar duniaku. Akhirnya, aku hatus merelakan kita.

Irama tango, waltz, rumba, cha cha dan jive masih menjadi irama favoritku. Badanku otomatis bergoyang saat mendengarnya. Gerakan rumit namun indah, selalu ada di pikiranku. Tak banyak yang tahu, aku masih berlatih meski hanya melalui video dan sisa ingatan.

Hae dansa, aku sangat merindukanmu. Dan aku, masih berharap ada kita 🙂

IMG_8645

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 8, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Teman tidur

Hae Taz (–,)
Sudah lebih dari 14 tahun kamu menemani malamku. Waktu memang berjalan terlampau cepat. Rasanya baru kemarin aku memelukmu dengan pakaian putih biruku. Sekarang, aku tetap memelukmu dengan setumpuk berkas di otakku sebelum tidur.

Kamu yang tahu saat aku tersenyum sambil menatap layar handphone-ku, karena ada pesan darinya. Kamu yang melihatku saat aku menangis, entah karena kecewa atau karena sedih. Kamu yang selalu menemaniku, Taz.

Aku sempat mengabaikanmu, namun kamu tak pernah mengeluh. Aku sempat membanggakanmu, namun kamu tak pernah congkak. Iya, karena kamu hanyalah sebuah boneka Tazmania.

Hanya sebuah boneka? Buatku, kamu lebih dari itu. Aku pernah berandai, jika kamu diberi kesempatan untuk hidup, apakah kamu akan menyayangiku atau malah membenciku. Seketika, adegan film Ted terlintas di kepalaku, Taz.

Taz,
Tetaplah bersamaku. Mungkin jika bukan aku yang memelukmu, kelak anakku yang akan melakukannya. Dan dengan bangga aku akan bercerita, usia Taz lebih tua dari usiamu. Dia yang selalu bersama mama, Nak.

IMG_8569-0

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 
 
%d blogger menyukai ini: