RSS

Arsip Bulanan: Januari 2015

Sahabat :)

Teruntuk @aysky
Halo Kak,
Sudah 3 bulan sejak pertemuan terakhir kita. Kala itu, kamu menyempatkan diri menemuiku yang sedang berkunjung ke kotamu. obrolan absurd kita, ditemani gelak tawa yang tak pernah padam serta seporsi makan besar di salah satu sudut mall. Padahal, keesokan paginya, kamu harus berkutat dengan kerjaanmu yang seolah tak ada habisnya.

Kak,
Aku rindu bergelung di kasur kosmu, bolos kuliah karena malas. Aku rindu menyesap kopi diselingi cerita mengenai lelaki kita. Aku rindu berorganisasi denganmu. Masih belum puas kita bertukar kisah. Masih banyak rahasia yang belum terungkap. Saat ini, kita hanya mampu bertatap muka melalui layar handphone.
Kak,
Mari kita agendakan pertemuan kita selanjutnya, dengan sebotol beer dingin di tangan kita. Dan setumpuk cerita yang sempat tertunda. Mari kita rayakan \o/

2015/01/img_8138.jpg

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Ini bukan surat cinta

Surat cinta? Bukan, ini bukanlah surat cinta. Hanya sepenggal rasa yang belum selesai, karena memang tak pernah selesai.tak pernah ada kata selamat tinggal, good bye, au revoir, vaarwel atau ucapan perpisahan lainnya.
Hari ini, pertama kalinya aku menulis surat untukmu. Entah, kamulah yang pertama kali terlinta di pikiranku. Iya, kamu, Rio Agi Saputra.
Masih ingat bagaimana raut mukaku saat melihatmu berada di depan pintu rumahku, setelah bertahun-tahun kita tak berjumpa? Kamu, pangeran kecilku, berubah menjadi sesosok pemuda gagah.
Masih ingatkah kamu, bagaimana nyamannya aku berada di pelukmu dan yang kita lakukan hanya diam?
Masih ingatkah kamu, rona merah pipiku saat pertama kali tangan kita bergandengan?
Masih ingatkah kamu, tangis dan tawa yang tercipta antara kita?
Rio, masih ingatkah kamu tentangku?

Hari itu, aku tak berfirasat apapun. Hanya segelintir rindu akan pertemuan kita yang membuncah. Namun ternyata, takdir berkata lain. Kecelakaan itu, merenggutmu dariku selamanya. Air mata tak mampu lagi kubendung, jatuh begitu saja. Tak ada yang mampu aku lakukan, hanya mengucap lirih namamu.
Pagi itu, langit mendung. Seolah turut berduka mengantarkan kepergianmu. Sebelum tubuh kakumu terkubur tanah merah, sempat kulantunkan Al-Fatihah dalam isak tangisku.
Rio,
Sampai saat ini aku percaya, kamu mendampingiku dalam setiap langkahku. Tenanglah kamu dalam lindungan-Nya. Suatu saat, kita akan berjumpa dalam abadi.

Salam sayang selalu,

Your little princess

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2015 in #30harimenulissuratcinta

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: